Mengenal Sandbox dalam Sistem Bisnis Pembayaran

12 April 2022

Developer menggunakan sandbox BRIAPI untuk menguji program

Dalam pengembangan produk, dibutuhkan sebuah ekosistem uji coba sebelum produk tersebut dapat diimplementasikan secara riil. Selain memastikan kesesuaian antara teknologi pendukung produk dengan sistem yang telah berjalan, uji coba ini dapat menggaransi produk dari berbagai risiko keamanan. Maka, di sinilah sandbox berperan.

Lalu, apa itu sandbox dan seberapa penting perannya dalam pengembangan produk?

Sandbox berfungsi sebagai ekosistem virtual untuk melangsungkan berbagai uji coba terkait pengembangan produk hingga pengujian keamanan siber. Salah satu contohnya adalah sandbox yang dikembangkan Bank Indonesia untuk memfasilitasi kebutuhan teknologi finansial sistem pembayaran. 

Sandbox merupakan salah satu upaya untuk dapat menjaga inovasi teknologi finansial di bisnis sistem pembayaran digital. Secara umum, sandbox turut menjadi sebuah usaha dalam mengakselerasi ekonomi keuangan digital.

 

Apa Itu Sandbox?

Programmer memanfaatkan sandbox untuk melakukan uji coba program

Sandbox adalah ekosistem buatan yang berfungsi untuk melakukan serangkaian uji coba sebelum produk dapat dirilis ke publik. Melalui sandbox, pengembang (developer) dapat menguji integrasi untuk mengecek berbagai risiko keamanan, kemungkinan kegagalan integrasi, sekaligus mempelajari faktor-faktornya.

Dalam proses uji coba tersebut, pengguna dapat mengakses berbagai dokumen terkait pengoperasian program tanpa khawatir mengganggu operasional sistem yang telah berjalan. Dari sisi developer, sandbox memberikan keleluasaan untuk mengidentifikasi potensi error yang muncul baik akibat diretas pihak eksternal maupun kesalahan dalam pemrograman.

Untuk lebih memahami apa itu sandbox, kita bisa melihat contoh penerapannya di industri finansial yang berupa Sandbox 1.0, regulatory sandbox yang dikembangkan oleh Bank Indonesia. Regulatory sandbox adalah sarana untuk inovasi terhadap sebuah kebijakan ataupun ketentuan dalam sistem pembayaran. Tujuannya adalah untuk memberi ruang demi memastikan bahwa produk, layanan, teknologi, dan/atau model bisnis telah memenuhi kriteria.

Pada April 2021, Bank Indonesia merilis inovasi sekaligus penyempurnaan dari Regulatory Sandbox, yakni Sandbox 2.0. Secara keseluruhan, fungsi Sandbox 2.0 dibagi menjadi tiga, yakni:

  1. Innovation Hub. Sandbox sebagai sarana pengembangan inovasi yang sudah ataupun belum digunakan pada industri sistem pembayaran secara terbatas.
  2. Regulatory Sandbox. Sandbox sebagai sarana untuk inovasi terhadap kebijakan ataupun ketentuan dalam sistem pembayaran.
  3. Industrial Sandbox. Sandbox sebagai sarana inovasi yang telah digunakan dalam industri pembayaran, tetapi membutuhkan dorongan lebih untuk dapat digunakan secara luas.

Salah satu produk atau layanan yang merupakan hasil pengembangan di Sandbox 2.0 adalah update QRIS menjadi berbasis Customer Presented Mode (CPM). Sebelumnya, QRIS hanya mencakup merchant, atau Merchant Presented Mode (MPM).

Pada Merchant Presented Mode, QRIS akan muncul di pihak merchant untuk dipindai (scan) oleh konsumen. Sementara itu, Customer Presented Mode merupakan kebalikannya, yakni QRIS muncul di pihak konsumen, lalu merchant akan memindai QRIS.

Berbekal update tersebut, baik QRIS CPM dan MPM telah digunakan oleh 6,07 juta merchant, yang mana 85 persen di antaranya adalah pelaku usaha mikro dan kecil. Selain itu, QRIS CPM juga telah diuji coba ke 1.041 pengguna dengan nilai transaksi menyentuh angka Rp47,83 miliar.

Baca juga: Kolaborasi dengan BRIAPI, Xendit Hadirkan Layanan Pembayaran Digital Terbaik
 

Cara Kerja Sandbox

Sebelum menggunakan sandbox, Anda perlu mengetahui alasan kenapa Anda membutuhkan sandbox. Ivo Jenik dan Schan Duff, dua konsultan finansial di Consultative Group to Assist the Poor (CGAP), memberi tiga langkah untuk mengetahui alasan Anda membutuhkan sandbox, yaitu:

1. Menentukan tujuan

Menetapkan tujuan yang jelas sejak awal akan memudahkan pengguna untuk fokus pada hasil akhir dan dampak dari uji coba. Umumnya, ada tiga tujuan penggunaan sandbox, yakni:

  1. Mempromosikan inovasi dan/atau kompetisi
  2. Mengatasi hambatan akibat ketatnya aturan
  3. Mempelajari perkembangan di market

2. Mengidentifikasi hambatan terhadap inovasi

Beberapa hambatan dapat diidentifikasi melalui penggunaan sandbox, seperti biaya pengembangan produk yang mahal, ketidakjelasan aturan, hingga larangan dalam regulasi.

3. Mempertimbangkan solusi

Setelah berhasil mengidentifikasi hambatan yang ada, sandbox memungkinkan penggunanya untuk mencoba berbagai kemungkinan solusi yang kemudian dapat diaplikasikan di dunia nyata.


Apabila Anda sudah menetapkan ketiga hal di atas, maka selanjutnya adalah mulai menggunakan sandbox. Ada empat langkah dalam melakukan simulasi di sandbox, yaitu:

  1. Mengidentifikasi case study, mengidentifikasi contoh nyata atau case study dari inovasi yang akan diuji.
  2. Mengatur simulasi, mengundang stakeholder untuk mengikuti simulasi di sandbox.
  3. Menjalankan simulasi, menyajikan case study kepada stakeholder dan meminta mereka untuk melakukan tindakan yang sesuai dengan tujuan dibuatnya sandbox.
  4. Evaluasi, menggunakan hasil uji coba di sandbox sebagai bahan evaluasi.  

Baca juga: Tren Sistem Pembayaran Online Hingga e-Wallet untuk Pengembangan Bisnis
 

Manfaat Sandbox

Bisnis memperoleh manfaat dari penggunaan sandbox

Sebagai ekosistem simulasi dan uji coba terhadap produk dan/atau layanan yang belum dirilis, sandbox memiliki beberapa manfaat, terutama dalam konteks pengembangan produk. Setelah memahami apa itu sandbox dan cara kerjanya, berikut adalah ragam manfaat dari sandbox:

1. Memastikan keamanan sistem  

Sandbox dimanfaatkan untuk memeriksa software atau file yang dicurigai berisi virus atau kode berbahaya. Untuk melakukan deteksi dini, diperlukan tempat aman untuk memastikan dokumen tersebut aman dari segala risiko keamanan, dan sandbox adalah tempatnya.

2. Menyesuaikan produk dengan ekosistem nyata

Uji coba di dalam sandbox juga berfungsi untuk menyesuaikan teknologi dengan ekosistem di sistem dan mendapatkan informasi yang dibutuhkan sebelum diimplementasikan ke sistem.

3. Mengurangi risiko gagal integrasi

Simulasi penting untuk menemukan ketidakserasian antara proses pengembangan produk. Maka, penggunaan sandbox membantu dalam menemukan celah dalam produk yang sedang dikembangkan.

4. Memungkinkan calon pengguna melakukan eksplorasi 

Sandbox memungkinkan calon pengguna melakukan eksplorasi model fitur (dummy feature) demi menghasilkan fitur yang sesuai dengan kebutuhan dan memastikan kualitas produk akhir sebelum sampai ke tangan mereka.
 

Beragam manfaat tersebut dapat dilihat pada pengembangan produk-produk perbankan maupun fintech, seperti uang elektronik, integrasi pembayaran pajak, hingga QRIS. Bahkan, untuk pengembangan QRIS yang diusung BI ke depannya, akan ada berbagai layanan baru seperti QRIS on Delivery, transaksi cross border ke Malaysia dan Thailand, tarif transaksi dan setor, serta QRIS di pasar tradisional dan destinasi wisata. 

Tentunya, pengembangan-pengembangan tersebut perlu dijalankan terlebih dahulu di dalam sandbox agar tim inovator dapat mengoptimalkan produk sebelum dirilis. Sandbox juga memungkinkan penyediaan fasilitas sarana dan prasarana digital workplace yang mengusung tema digital nusantara. Sehingga, sandbox dapat mendukung aspek tampilan (interface) yang terintegrasi antara perbankan dengan semua industri yang berkecimpung di sistem pembayaran.

***