Perkembangan FinTech di Indonesia dan Peran BRIAPI di Dalamnya

Akhir-akhir ini, financial technology atau FinTech sedang booming. Semakin tingginya kebutuhan pendanaan menjadi salah satu alasan industri FinTech berkembang pesat.  Sejalan dengan visi inklusi keuangan tersebut, BRI turut mendukung perkembangan FinTech di Indonesia melalui BRIAPI, teknologi open banking dari BRI. Dengan mengintegrasikan BRIAPI, perusahaan FinTech dapat memiliki akses menuju layanan perbankan digital BRI

Optimalkan Peluang Bisnis Digital dengan API Terstandarisasi BI dari BRI

Saat ini, e-commerce dan semua bisnis sudah go digital. Riset kolaboratif menunjukkan, 8 dari 10 merchant memperkirakan bahwa dalam 5 tahun ke depan, lebih dari 50 persen pendapatan bisnis digital akan berasal dari sumber online. Namun, nyatanya bisnis digital bukan sekadar ‘jualan online’. Lebih dari itu, bisnis digital mengutamakan penggunaan teknologi agar perusahaan dapat menawarkan keunggulan dibanding kompetitornya.

BRIAPI Sediakan Alat Pembayaran Non-Tunai Untuk UMKM

Sistem pembayaran terus berevolusi dari waktu ke waktu, diikuti dengan evolusi alat pembayaran. Alat pembayaran yang dahulu berupa tunai (cash-based) berevolusi ke alat pembayaran non-tunai berbasis kertas (paper-based) dan berbasis kartu (card-based).  Perubahan sistem serta alat pembayaran menuntut semua pemain di sektor ekonomi dan bisnis untuk turut berevolusi dan lebih fleksibel dalam menyediakan opsi pembayaran, tidak terkecuali bagi para pelaku UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah).

Tren Sistem Pembayaran Online Hingga e-Wallet untuk Pengembangan Bisnis

Perputaran ekonomi digital yang terus meningkat membuat bisnis online terutama di marketplace kian menjanjikan. Bank Indonesia telah memproyeksikan transaksi daring melalui marketplace akan tumbuh hingga 33,2% di 2021. salah satu faktor pertumbuhan ini adalah kehadiran Open API untuk support marketplace yang memudahkan pebisnis dalam menyediakan sistem pembayaran online di marketplace pilihan mereka. Lebih lanjut, data dari BI tersebut juga menunjukkan bahwa Indonesia menjadi salah satu negara yang berpotensi besar di sektor ekonomi digital. Menurut riset Google, Temasek dan Bain yang berjudul E-conomy SEA 2019, nilai ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan mencapai angka US$130 Miliar pada tahun 2025. Ditambah lagi, menurut Bank Indonesia, nilai transaksi digital akan mengalami pertumbuhan double digit dengan e-commerce meningkat 33,2% dan perbankan 19,1% year-on-year pada tahun ini.

Tiga Hal yang Harus Bisnis Anda Lakukan di Era Digital

Tak bisa dipungkiri lagi, digital disruption akibat Revolusi Industri 4.0 memberikan dampak bagi bisnis lintas industri. Digital disruption yang secara harfiah berarti ‘gangguan digital’ benar-benar menimbulkan kondisi baru bagi bisnis akibat mudahnya akses dan arus informasi mengalir lewat platform digital. Tak sampai disitu, serangan pandemi COVID-19 di tahun 2020 juga seakan-akan semakin memaksa kita untuk mentransformasi bisnis menjadi lebih siap menghadapi era digital. Berikut ini beberapa hal yang harus Anda siapkan untuk mentransformasi bisnis Anda demi menyambut era digital:

Langkah Strategis BRI untuk Ciptakan Inklusi Finansial

Inklusi keuangan merupakan sebuah kondisi dimana setiap masyarakat memiliki akses untuk menjangkau berbagai layanan keuangan formal yang berkualitas, tepat waktu, lancar, dan aman dengan biaya terjangkau sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing. Berdasarkan Survei Nasional Literasi Keuangan (SNLIK) yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada tahun 2019, indeks inklusi keuangan Indonesia berada di angka 76,19%. Angka ini mengalami peningkatan sebesar 8,39% jika dibandingkan dengan 3 tahun sebelumnya. Kenaikan indeks inklusi keuangan ini tentunya menjadi pertanda positif terkait pemerataan pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

Tiga Faktor Kunci Kesuksesan Bisnis E-Commerce

Seiring dengan bertumbuh pesatnya angka pengguna Internet di Indonesia, jumlah pengguna e-commerce juga mengalami pertumbuhan yang sangat cepat. Menurut data yang dirilis oleh GlobalWebIndex tahun 2019, Indonesia merupakan negara dengan tingkat adopsi e-commerce tertinggi di dunia. Dimana sebanyak 90% dari pengguna internet berusia 16-64 tahun sudah pernah berbelanja secara online. Menurut McKinsey, nilai kapitalisasi pasar e-commerce Indonesia akan mencapai nilai USD 40 miliar pada tahun 2022. Hingga tahun 2020 ini, setidaknya telah ada 50 platform e-commerce di Indonesia.  Bahkan, pengguna aktif salah satu e-commerce telah mencapai angka 90 juta. Untuk dapat mengikuti kesuksesan bisnis e-commerce, berikut 3 hal yang harus Anda perhatikan untuk kesuksesan bisnis e-commerce:

Cara Paling Efektif Memantau Nilai Kurs untuk Bisnis Anda

Berbeda dengan perdagangan dalam negeri yang hanya menggunakan satu mata uang, sebuah bisnis yang telah menembus pasar internasional diharuskan untuk memantau nilai kurs dari negara yang sedang menjalani hubungan dagang dengan bisnisnya. Dikarenakan, nilai mata uang asing kerap kali mengalami fluktuasi setiap harinya. Ada saatnya rupiah mengalami penguatan dibanding dengan mata uang lain atau yang disebut apresiasi, dan ada pula saatnya rupiah melemah dibanding dengan mata uang lain atau yang disebut depresiasi Dengan perkembangan internet dan dunia digital yang sangat pesat, proses pengecekan nilai kurs mata uang asing juga semakin mudah. Anda bisa memantau nilai kurs ini dengan beberapa cara melalui internet, berikut tiga diantaranya: