BRI Jamin Keamanan Open Banking dengan BRIAPI

8 Desember 2020
Sebagai bank nomor satu di Indonesia, BRI turut serta dalam mewujudkan cetak biru Sistem Pembayaran Indonesia 2025 melalui pengembangan open banking dengan menghadirkan BRIAPI. Langkah ini diambil sebagai perwujudan pemanfaatan teknologi digital dan data untuk mendukung bisnis keuangan. Salah satu langkah pengembangan open banking yang dilakukan BRI adalah dengan mengembangkan layanan open API yaitu BRIAPI. Open API adalah sebuah sistem yang dapat memberikan akses data dan informasi keuangan nasabah melalui Application Programming Interface (API) kepada pihak ketiga yaitu pelaku bisnis yang telah memiliki izin dari nasabah.

Raih Peluang Transaksi Digital Dengan Open API BRIAPI

10 November 2020
Saat ini, tuntutan transformasi digital semakin menguat akibat kondisi pandemi yang mengharuskan banyak aktivitas dilakukan secara virtual. Mulai dari proses pendidikan hingga kegiatan jual beli harus dilakukan secara daring untuk mencegah penularan virus COVID-19. Selama masa pandemi, pertumbuhan transaksi digital di BRI sendiri meningkat secara signifikan. Tercatat, rata-rata ada enam juta transaksi digital yang dilakukan oleh nasabah BRI setiap harinya. Anda pun dapat memanfaatkan peluang pertumbuhan transaksi digital ini untuk mengembangkan bisnis Anda dengan menggunakan Open API Bank BRI, BRIAPI. Open API (Application Programming Interface) atau API Terbuka adalah suatu sistem yang memungkinkan terjadinya integrasi sistematis antara BRI dengan pelaku usaha dengan sejumlah ketentuan. Jika dulu transaksi digital harus melalui proses transfer lewat mobile banking atau ATM dan Anda sebagai pelaku usaha harus melakukan pengecekan manual, dengan Open API semua proses tersebut dapat berlangsung otomatis.

Permudah Transaksi Digital Dengan API BRIVA dari BRIAPI

10 November 2020
Pembayaran melalui transfer bank secara manual seringkali merepotkan bagi para pengusaha maupun pelanggan. Di sisi pelanggan, mereka harus melakukan konfirmasi setelah menyelesaikan pembayaran dengan mengirimkan bukti transfer fisik atau screenshot mobile banking mereka. Para pemilik usaha juga harus kembali melakukan pencocokan transaksi secara manual. Selain prosesnya yang terlalu panjang, transfer bank secara manual juga dapat menimbulkan isu keamanan data karena rekening pengusaha akan ditampilkan secara gamblang di internet, sehingga rawan disalahgunakan. Transfer manual juga dapat meningkatkan peluang terjadinya human error karena pebisnis harus melakukan pengecekan transaksi secara manual.